Etilendiamin.
Etilendiamin
mempunyai efek samping penekanan CNS dan gastro intestinal.
Antihistamin
tipe piperazin, imidazolin dan fenotiazin mengandung bagian etilendiamin.
Pada
kebanyakan molekul obat adanya nitrogen
kelihatannya merupakan kondisi yang diperlukan untuk pembentukan garam yang
stabil dengan asam mineral.
Gugus amino
alifatik dalam etilen diamin cukup basis untuk pembentukan garam, akan tetapi
atom N yang diikat pada cincin aromatik sangat kurang basis.

Elektron
bebas pada nitrogen aril di delokalisasi oleh cincin aromatik.
Struktur
resonansi yang menunjukkan delokalisasi elektron adalah sbb.
Adanya penurunan kerapatan
elektron pada N, menjadi kurang basis dan protonasi pada posisi ini berlangsung
lambat.
Fenbenzamin
merupakan salah satu anti histamin kuat yang ditemukan oleh Halpern (1942), dan
merupakan model untuk deret senyawa yang mempunyai struktur umum.
R R2
N – CH2-CH2-
N
R1 R3
Sintesis
dan evaluasi hayati senyawa dengan struktur
Ini
menghasilkan banyak anti histamin yang dipakai
dalam
klinik.
piridin dihidrogen sitrat (1:1)
Merupakan
turunan fenbenzamin dengan satu penggantian isosterik sederhana , yaitu gugus
fenil diganti dengan gugus piridil.
Penggaraman
dengan asam sitrat, karena garam sitrat kurang pahit dibanding garam HCl,
sehingga rasanya lebih enak.
Karena
berbeda bobot molekulnya dosis kedua garam harus disetarakan: 30 mg garam
sitrat setara dengan 20 mg garam hidrokloridanya.
2.
Tripelenamin Hidroklorida
Garam tripelenamin
HCl merupakan serbuk kristal putih dan akan berubah menjadi gelap dengan adanya
cahaya.
Garam yang
larut dalam air (1: 0,77) dan dalam alkohol (1:6). Mempunyai pKa sekitar 9 ,
pada larutan 0,1 % merupakan pH 5,5.
Jika
diberikan per oral, absorbsinya baik dan efektifitasnya sama dengan
difenhidramin dan reaksi sampingnya lebih sedikit dan lebih ringan.
Menyebabkan
kantuk dan harus dihindarkan pemakaian dengan minuman beralkohol.
3.
Pirilamin Maleat USP ; 2-[(2-dimetilaminoetil-9-
p-metoksibenzil) amino] piridil bimaleat
Basa bebas
berbentuk seperti minyak, tersedia sebagai garam asam maleat., yang berupa
serbuk kristal putih dengan sedikit bau, berasa pahit dan asin.
Merupakan
antihistamin yang kurang poten, tetapi poten dalam meng-antagonis kontraksi
terinduksi histamin pada ileum marmot.
Karena
mempunyai daya anestetika lokal, tidak boleh dikunyak harus bersama makanan.
4.
Metapirilen HCL USP ; Histadyl HCL;
2-[(dimetilamino- etil) (2-
tienil)-amino
piridin monohidroklorida
Berupa serbuk kristalin putih, rasa pahit, larut
dalam
air, alkohol dan kloroform, larutannya
mempunyai
pH 5,5.
Cincin
tiofen dianggap isosterik dengan cincin benzena
dan isoster ini memperlihatkan aktivitas
yang sama. Konformasi trans-metapirilen lebih disukai untuk dua
atom nitrogen etilen diamina.
FDA pada
tahun 1979 menarik produk yang mengan-
dung metapirilen karena menyebabkan
kanker.
5.
Tonzilamin HCL; 2-[
Z(2-dimetilaminoetil) (p-
metoksi- benzil) amino] pirimidin hidroklorida
Berupa serbuk kristalin, larut dalam air , alkohol
dan kloroform.
Larutannya 2% dalam air mempunyai pH 5,5.
Aktivitasnya
sama dengan tripelenamin tetapi kurang toksis.
Dosis lazim
: 50 mg, 4 kali sehari
.
C. Turunan Propilamin
Anggota
kelompok yang jenuh disebut sebagai feniramin yang merupakan molekul khiral.
Turunan
tersubstitusi halogen dapat diputuskan dengan kristalisaasi dari garam yang
dibentuk dengan d-asam tartrat.
Antihistamin
golongan ini merupakan antagonis H1 yang paling aktif.
Mereka
tidak cenderung membuat kantuk, tetapi beberapa pasien mengalami efek ini.
Pada
anggota yang tidak jenuh, sistem ikatan rangkap dua aromatik yang koplanar Ar
– C = CH-CH2 - N faktor
penting untuk aktivitas antihistamin.
Gugus
pirolidin adalah rantai samping amin tersier pada senyawa yang lebih aktif.
Pada
anggota alkena (tidak jenuh), aktivitas antihistamin konfigurasi E berbeda
sangat menyolok dibandingkan dengan
konfigurasi Z, sebagai contoh: E-Pirobutamin sekitar 165 kali lebih
poten dari pada Z-Pirobutamin;
E-Triprolidin
aktivitasnya sekitar 1000 kali lebih
poten dibandingkan dengan Z-triprolidin.
Perbedaan
ini dikarenakan jarak antara amina
alifatik tersier dengan salah satu cincin aromatik sekitar 5-6 Ao,
yang jarak tersebut diperlukan dalam ikatan sisi reseptor.
Beberapa
turunan propilamin antara lain :
1.Feniramin
maleat; Avil ; Trimeton; Inhiston maleat
Berupa
garam yang berwarna putih dengan sedikit bau seperti amin yang larut dalam air,
dan alkohol.
Feniramin
maleat merupakan anggota seri yang paling kecil potensinya dan dipasarkan
sebagai rasemat .
Dosis lazim
: 20 – 40 mg, sehari 3 kali
.
2.
Klorfeniramin maleat ; Chlortrimeton
maleat; CTM ; Pehachlor
Berupa
puder kristalin putih, larut dalam air, alkohol dan kloroform. Mempunyai pKa
9,2 dan larutannya dalam air memounyai pH 4-5.
Klorinasi
ferinamin pada posisi para dari cincin fenil memberikan kenaikan potensi 10 x
dengan perubahan toksisitas tidak begitu besar.
Hampir semua aktivitas antihistamin terletak pada enantiomorf dektro. Dektro-klor dan
brom feniramin lebih kuat daripada levonya.
3.
Dekstroklorfeniramin maleat = Polaramine maleat
merupakan
enantiomer klorfeniramin yang memutar
kekanan.
Isomer ini aktivitas anti histaminnya paling
dominan dan
mempunyai konfigurasi S yang super
imposable
pada konfigurasi S enantiomorf karbinok-
samin
levorotatori yang lebih aktif.
4.Bromfeniramin
maleat = Dometane maleat
Kegunaan sama dengan klorfeniramin maleat
senyawa ini mempunyai waktu kerja yang panjang dan efektif dalam dosis 50 x
lebih kecil daripada dosis tripelenamin.
5. Dekstrobromfeniramin maleat = Disomer
Aktivitasnya
didominasi oleh isomer dekstro, dan potensinya sebanding.
Turunan
Propilamin yang tidak jenuh
1. Pirobutamin
fosfat USP; Pyronil fosfat;
(E)-1-[4-(4-Klorofenil)-3-fanil-2-butenil]pirolidin difosfat.
Berupa serbuk kristal putih yang larut
dalam air panas sampai 10 %. Garam fosfatnya lebih mudah diabsorbsi daripada
garam HCl nya
..
.2.
Tripolidin HCl USP; Actidil HCl .
(E)-2-[3-(1-pirrollidinil)-1-p-tolil
propenil)piridin
mono hidroklorida.
Berupa
puder kristalin putih, larut dalam air, alkohol dan larutannya alkali terhadap lakmus.
Aktivitasnya
terutama ditentukan pada isomer geometriknya dimana gugus pirolidinometil
adalah trans terhadap gugus 2-piridil.
Studi
farmakologi terbaru memastikan aktivitas tripolidin yang tinggi dan keunggulan
isomer E terhadap isomer Z sebagai antagonis-H1
Turunan Fenotiazin
1.
Prometazin Hidroklorida USP ; Phenergan HCl;
(±)-10-(2-dimetil-aminopropil)fenotiazin
monohidroklorida
Garam ini
berupa serbuk kristalin berupa kuning muda yang larut dalam air, alcohol dan kloroform.
Selain
mempunyai aktivitas sebagai antihistamin, senyawa ini juga mempunyai efek
antiemetik, serta memperkuat kerja obat
analgetik dan sedatif.
Memperpanjang
rantaisamping dan substitusi gugus
lipofilik pada posisi 2 cincin aromatik menghasilkan senyawa dengan
aktivitas antihistamin yang menurun dan menaikkan sifat psikoterapetik.
Dipakai
juga untuk pemakaian lokal karena mempunyai
efek anestesi lokal.
Trimeprazin
Tartrat USP ; Temaril tartrate;
(±) -
10-(3-dimetilamino-2-metilpropil) feno-tiazin tartrat
Berupa
serbuk kristal putih yang mudah larut
dalam air dan alkohol.
Aksi
antihistaminnya sekitar 1,5 – 5 kali prometazin.
Selain itu
juga mempunyai aksi antipruritik.
1.
Metdilazin Hidroklorida USP; Tacaryl Hydro-
chloride ; (±)-10-[(1-metil-3-pirolidinil)
metil] fenotiazin monohidroklorida
Berupa
serbuk kristalin kehitaman dengan bau sedikit karakteristik.
Aktivitasnya
sama dengan metdilazin dan diberikan secara oral untuk efek antipruritik.
Absorbsi
obat dalam saluran cerna cepat, kadar darah tertinggi dicapai 30 menit setelah
pemberian oral.
Golongan
trisiklik yang lain
Siproheptadin
HCl USP ; Periactin Hydrochloride;
Heptasan
Senyawa
ini sedikit larut dalam air dan dalam alkohol. Mempunyai aktivitas sebagai antiserotonin dan antihistamin yang
potensinya sebanding dengan klorfeniramin maleat.
Dapat digunakan untuk pengobatan alergi kulit
seperti antipruritik, urtikaria, ekzem dan dermatitis.
Selain itu
juga mempunyai aktivitas sebagai anti- migrain, perangsang nafsu makan dan
trankuilizer.
Dosis : 4
mg diberikan 3-4 kali sehari.
Azatadin
Maleat USP ; Optimine Maleat; Zadine
Azatadin
merupakan isoster aza dari siproheptadin dimana ikatan rangkap dua dari
10,11-direduksi.
Azatadin
merupakan antagonis-H1 yang kuat dengan masa kerja panjang dan efek
sedasi rendah.
Potensinya
3 x siproheptadin pada lapisan ileum marmot terpisah dan mempunyai aktivitas
yang lebih besar dibanding klorfeniramin
maleat.
Dosis lazim
: 1-2 mg, dua
kali sehari.
Antagonis H1 Generasi kedua
Untuk
menghilangkan atau meminimalkan efek sedasi, maka dikembangkan antihistamin
generasi kedua, yaitu senyawa yang mempunyai kelarutan pada lipid yang rendah
pada pH fisiologi, dan bekerja pada reseptor H1 perifer.
Mereka bervariasi
luas dalam strukturnya.
Contoh
antihistamin generasi kedua tersebut
antara lain adalah terfanadin,
feksofenadin, astemizol,
sefarantin, loratadin, setrizin,
akrivastin, taksifilin dan sodium kromolin.
1. Terfenadin
; Hiblorex; Nadane

Merupakan
antagonis H1 selektif yang relatif tidak menimbulkan efek sedasi dan
anti-kolinergik. Senyawa ini tidak berinteraksi dengan reseptor a dan b adrenergik, karena tidak mampu
menembus sawar darah otak. Terfenadin efektif untuk pengobatan
alergi rinitis musiman, pruritik dan urtikaria kronik. Absorbsi obat
dalam cerna baik dan cepat.
Awal kerja
obat cepat sekitar 1-2 jam, efek mencapai maksimum setelah 3-4 jam dan berakhir
setelah sekitar 8 jam. Metabolit utamanya adalah feksofenadin (Allegra) yang
juga merupakan antagonis H1 yang poten.
2.
Astemizole
Astemizole
merupakan produk pengembangan dari be-
berapa
benzimidazol. Efek sampingnya serupa terfanadin.
3.
Akrivastin ( Semprex)
Triprolidin
Senyawa
analog triprolidin yang mempunyai lipofilitas rendah karena ada gugus
karboksilat (asam akrilat), sehingga sukar menembus SSP dan kerja obat menjadi
lebih cepat.
Akrivastin
digunakan untuk alergi kulit yang kronis.
Pemakaiannya
sering dikombinasi dengan obat
dekongestant.
5.
Cetirizine
Cetirizine
merupakan metabolit asam dari oksidasi alko-
hol primer dari antihistamin hidroksizin. Memp. durasi
aksi lama dan selektivitas tinggi pada reseptor
H-1.
4.
Loratadin (= Claritin)
Merupakan
turunan antihistamin trisiklik azatadin yang
poten, mempunyai masa kerja yang panjang
dengan
aktivitas antagonis perifer yang
selektif.
Loratadin
dimetabolis melalui proses oksidasi dan bukan hidrolisis menjadi deskarboetoksi
loratadin.
Loratadin
digunakan untuk meringankan gejala alergi rinitis urtikaria kronik dan kelainan
alergi dermatologis.
Turunan Eter amino alkil
|
Senyawa-senyawa yang paling aktif mempunyai panjang rantai dua atom C. Kuarterinisasi nitrogen rantai samping tidak selalu menghasilkan senyawa yang kurang aktif.
Golongan ini mempunyai aktivitas antikolinergik nyata, yang mempertinggi aksi pengeblokan reseptor H1 pada sekresi eksokrin.
Efek samping pemakaian eter amino alkil tersier adalah mengantuk, sehingga dipergunakan sebagai pem-bantu tidur pada obat tanpa resep.
Golongan ini dapat mengganggu penampilan tugas
pasien yang memerlukan ketahanan mental
1. Difenhidramin HCl USP = Benadryl
Basa bebasnya seperti minyak dan larut dalam lipid, tersedia dalam garam HCl, yang berupa kristal yang berasa pahit, stabil diudara dan larut dalam air, alkohol dan kloroform, pKa : 9
Larutan 1 % dalam air mempunyai pH sekitar 5.
Difenhidramin mudah disintesis, dengan mengkondensasikan benzhidril bromida dengan dimetil amino etanol dengan adanya natrium karbonat.
Na2CO3
(C6H5)2 CHBr + (CH3)2N CH2CH2OH (C6H5)2CH-OCH2CH2N(CH3)2
Diberikan secara oral atau parentral untuk pengobatan urtikaria, rinitis musiman dan antiemetik dan obat batuk.
Difenhidramin diikat oleh plasma protein 80-98%, kadar tertinggi dicapai dalam 2-4 jam setelah pemberian oral.
Dimenhidrinat USP; Dramamine;
= 8-kloroteofilin-2-(difenil metoksi)-N-N- dimetil etilamin. |
•Dibuat dengan mereaksikan difenhidramin dengan 8-kloroteofilin.
•Dengan adanya turunan purin tersebut dimaksudkan agar ada efek menstimulasi system syarat pusat.
•Dapat digunakan untuk mabuk perjalanan dan untuk mengatasi rasa mual pada waktu hamil.
3. Karbinoksamin Maleat ; Colistin maleat
Bentuk basa bebasnya berupa cairan menyerupai minyak yang larut dalam lipid. Garam maleatnya berbentuk kristal putih, larut dalam air dan mudah larut dalam alkohol dan kloroform.
Perbedaan struktur karbinoksamin dengan klorfeniramin terletak pada atom oksigen yang dipisahkan oleh atom karbon asimetrik dari rantai samping aminoetil.
Isomer levo karbinoksamin yang lebih aktif mempunyai konfigurasi absolut S dan dapat superimposabel dengan isomer klorfeniramin yang mempunyai konfigurasi absolut S.
Karbinoksamin merupakan antihistamin poten yang efek sedasinya kurang menonjol dan tersedia sebagai campuran rasemik.
4. Klemastin Fumarat
Obat ini mempunyai aksi durasi yang lama, dengan aktivitas yang mencapai maksimum dalam 5 – 7 jam, dan tetap berlangsung selama 10 – 12 jam.
Jika diberikan peroral akan diabsorpsi dengan baik dan ekskresinya terutapa di urin.
Pertanyaan :
1. Apa beda antihistamin H1,H2 H3 dan H4?
2. Bagaimana mekanisme fenotiazin menghasilkan efek antipsikotik?
3. Apa beda antihistamin Dan antialergi?
4.Apa contoh antihistamin non sedatif dan bagaimana efek nya?
4.Apa contoh antihistamin non sedatif dan bagaimana efek nya?
5. Bagaimana efek samping dari antihistamin?

Saya akan membantu menjawab pertanyaan no 5
BalasHapusantihistamin adalah zat yang mampu mencegah penglepasan atau kerja histamin. Istilah antihistamin dapat digunakan untuk menjelaskan antagonis histamin yang mana pun, namun seringkali istilah ini digunkan untuk merujuk pada antihistaminklasik yang bekerja pada reseptor histamin H1
Antihistamin biasa digunakan untuk mengobati reaksi alergi yang disebabkan oleh tanggapan berlebihan tubuh terhadap alergi ( penyebab alergi ), seperti serbuk sari tanaman. Reaksi ini menunjukkan perlepasan histamin dalam jumlah signifikan dalam tubuh. Antialergi adalah bentuk tindakan/pencegahan thdp alergi cnthny dgn pemberian antihistamin bhs kedokterannya obat spt diatas tdi
Saya akan mencoba menjawab no 2Efek sedasinya dihasilkan ketika salah satu turunan fenotiazin berikatan dengan reseptor dopamin, menghambat dpamin berikatan dengan reseptornya sehingga kadar dopamin bebas banyak didalam sirkulasi dan menimbulkan efek antipsikotik
BalasHapusMenurut saya untuk pertanyaan nomor 3 itu dimana Antihistamin
BalasHapus(antagonis histamin) adalah zat yang mampu mencegah penglepasan atau kerja histamin. Istilah antihistamin dapat digunakan untuk menjelaskan antagonis
histamin yang mana pun, namun seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk kepada antihistamin klasik yang bekerja pada reseptor histamin H1. Antihistamin ini biasanya digunakan untuk mengobati reaksi alergi, yang disebabkan oleh tanggapan berlebihan tubuh terhadap alergen (penyebab alergi), seperti serbuk sari tanaman. Reaksi alergi ini menunjukkan penglepasan histamin dalam jumlah signifikan di tubuh.
Antialergi adalah bentuk tindakan/pencegahan thdp alergi cnthny dgn pemberian antihistamin bhs kedokterannya obat spt diatas tdi
Pertanyaan no.3
BalasHapusObat antihistamin sering merupakan obat pertama yang digunakan untuk mencegah dan mengobati alergi akut dengan gejala rinitis, urtikaria, dermatitis, dan konjungtivitis, terutama dari golongan generasi I. Namun, untuk reaksi anafilaktik sistemik, epinefrin tetap merupakan obat pilihan, meskipun antagonis H1 juga memegang peranan. Di AS, antihistamin yang terbanyak dipakai untuk mengatasi rinitis alergik (hay fever) adalah golongan alkilamin (klorfeniramin) dan golongan piperidin (terfenadin). Untuk profilaksis, obat yang bisa digunakan adalah terfenadin karena efeknya yang panjang. Pada penderita asma, penggunaan obat antagonis H1 tidak efektif, terutama pada anak-anak, karena obat ini, terutama obat generasi I, mengeringkan bronkiolus. Sementara itu, untuk pengobatan konjungtivus alergik, biasanya digunakan levokabastin. Beberapa dermatitis alergik juga memberikan respon yang baik terhadap antagonis H1, terutama urtikaria akut dengan mengurangi rasa gatal, edema, serta eritem. Melalui beberapa penelitian, ternyata diketahui bahwa untuk mengatasi urtikaria kronik idiopatik, terfenadin lebih superior dibandingkan klorferamin dan seritizin terbukti ampuh untuk mengatasi urtikaria fisik (misalnya cuaca dingin). Selain itu, terbukti bakwa kombinasi antagonis H1 dan H2 sangat bermanfaat terhadap penderita urtikaria yang gagal diobati hanya dengan antagonis H1.
DAFTAR PUSTAKA
Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
menurut saya jawaban no 5 Mengantuk.
BalasHapusMulut kering atau disfagia.
Pusing.
Sakit kepala.
Nyeri perut.
Sulit buang air kecil.
Mudah marah.
Penglihatan kabur.
selain itu juga menyebabkan diskaria, walaupun jarang terjadi, ruam dan sensitiasi
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNo.5 efek yang paling sering dirasakan yaitu efek sedasi atau menyebabkan kantuk
BalasHapusiya saya setuju dengan nadya, dan juga yg sering efek sampingnya mulut kering
Hapuspertanyaan no 1
BalasHapusmenurut artikel yang saya baca
1. resptor H1
Paling banyak berperan dalam alergi namun bisa juga vasodilatasi dan bronkokonstriksi (asma)
Lokasi: Terdapat di otak, bronkus, gastrointestinal tract, genitourinary system, sistem kardiovaskuler, adrenal medula, sel endotelial
Obat antagonis H1
Obat anti histamin H1 biasanya berkompetisi (bersifat kompetitif) dengan histamin untuk mengikat reseptor, untuk meringankan reaksi alergi seperti rhinitis dan urtikaria.
Generasi 1 : cukup baik terabsorbsi setelah pemakaian oral. Level kadar tertinggi dalam darah biasanya 1-2 jam dengan durasi 4-6 jam. Efek sedatif masih tinggi
contoh: CTM, bromfeniram, prometazin, dimenhidrinat (bisa untuk obat mabuk jg)
Generasi 2: cukup baik terabsorbsi setelah pemakaian oral. Level kadar tertinggi dalam darah biasanya 1-3 jam, dengan durasi bervariasi dari 4-24 jam. Efek sedatif minimal
contoh: fexofenadin, loratadin, astemizol, cetirizin
Generasi 3: merupakan pengembangan dari generasi 2. Pencarian generasi ketiga ini dimaksudkan untuk memperoleh profil antihistamin yang lebih baik dengan efikasi tinggi serta efek samping lebih minimal.
contoh: desloratadin dan levocetirizin
Semakin tinggi generasinya durasi aksinya makin panjang dengan efek sedatif (ngantuk) semakin minimal
Efek samping obat antagonis H1 selain sedatif (menimbulkan ngantuk) juga atropine-like reactions contohnya mulut kering dan konstipasi.
2. Reseptor H2
Berlokasi di sel parietal lambung yang berperan dalam sekresi asam lambung
Cara kerjanya adalah dengan mengikat reseptor H2 pada membran sel parietal dan mencegah histamin menstimulasi sekresi asam lambung.
Obat antagonis H2: cimetidine, ranitidine, famotidine
3. Reseptor H3
Terdapat di sistem syaraf, mengatur produksi dan pelepasan histamin pada susunan saraf pusat.
Tidak seperti antagonis H1 yang menimbulkan efek sedatif, antagonis H3 menyebabkan efek stimulant dan nootropic dan sedang diteliti sebagai obat Alzheimer
Obat: Imetit, Immepip, clobenpropit, lodoproxyfan
4. Reseptor H4
Dijumpai pada sel-sel inflammatory (eusinofil, neutrofil, mononukleosit). diduga terlibat dalam alergi bersinergi dengan reseptor H1
Masih merupakan target baru obat anti inflamasi alergi karena dengan penghambatan reseptor H4 maka dapat mengobati alergi dan asma (sama dengan reseptor H1)
Efek samping antihistamin salah satunya yaitu mengantuk
BalasHapus